Jumat, 23 Juni 2017

KKNlyfe


Maaf ya, lebaran tahun ini Nadia ngga bisa merayakan di Jember ataupun di Tulungagung. Nadia sedang mengabdi di tanah orang, tepatnya di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. UGM menyebarkan sekitar 6000 mahasiswanya pada setiap periode dalam kegiatan yang dinamakan KKN PPM (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) keseluruh wilayah Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke, mulai dari ujung Utara sampai ujung Selatan dibagi dalam wilayah K1, K2 Pulau Jawa dan K2 Luar Pulau Jawa. Salah satu lokasi yang dikeluarkan UGM sebagai lokasi KKN PPM periode antarsemester tahun 2017 adalah Bangka Belitung. Jauh? Iya. Karena Nadia merasa menjalankan program KKN di pulau Jawa tidak begitu menantang. Menurut Nadia, semakin jauh, Nadia akan mendapatkan pelajaran lebih. Dan ada gengsi juga disitu. Semakin jauh, semakin keren, kelihatannya hahaha.

Sabtu, 04 Februari 2017

masa lalu?


Well, setelah liburan semester yang cukup panjang (yang dihabiskan dengan makan-tidur-makan-tidur di rumah tanpa sekalipun muncul pemikiran sehabis-ini-makan-apa-ya karena begitu tiba di rumah, semua urusan perut sudah terjamin (re: perbaikan gizi)) sudah lewat, maka aku diharuskan kembali kepada rutinitas perkuliahan bahkan ketika kebanyakan universitas lain belum memulai kegiatan akademiknya alias masih pada libur. Yeah, congratulations, gamada! Wkwkw

Aku kembali duduk mendengarkan dosen di kelas. Kembali meresume jurnal-jurnal internasional, membuat paper, tugas presentasi, kuis, praktikum dan mengarang indah dalam pembuatan laporannya. Dengan menggunakan alasan “kalian kan sudah semester 6, tahun depan sudah mulai masuk lab penelitian kan?”, maka hampir sebagian besar dosen memberikan tugas bahkan ketika masih pertemuan pertama seperti ini. Baiklah, izinkan aku mengeluh pada paragraf ini. Setelah banyak semester aku lewati, ternyata masih belum juga terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Maafkan aku yang tidak berguna ini.

Selasa, 03 Januari 2017

orang-orang yang berpikiran pendek


Ide tulisan ini bermula dari semakin maraknya pemberitaan intoleransi beragama dan lain lainnya pada berbagai media sosial, baik cetak maupun elektronik. Apabila ada yang berpendapat bahwa menulis adalah hal yang mudah, sesungguhnya mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang sok tau yang berpikiran sempit. Tulisan ini sebenarnya adalah penggabungan antara paper mata kuliah pendidikan agama Islam yang sempat dikumpulkan sebagai tugas untuk ujian akhir semester kemarin, pesan broadcast salah satu teman di grup sosial media dan pemikiran pribadi. Sesungguhnya tulisan ini tidak berniat mendukung atau menjatuhkan golongan-golongan tertentu. Dibanding tulisan-tulisan sebelumnya (yang isinya hanya keluhan-keluhan anak remaja alay yang penuh drama), mungkin tulisan ini agak berbobot (sedikit).

Menurutku, benar jika beragama pada era dewasa ini memiliki tantangan tersendiri karena selain dihadapkan pada semakin banyaknya prespektif pemahaman yang berbeda dalam lingkup agama tertentu di satu sisi, di sisi lain umat beragama juga dihadapkan pada realitas beragama di tengah agama orang lain. Dari realitas yang semakin mengglobal tentang agama dan beragama yang berpadu dengan cepatnya perkembangan IPTEKS dalam berbagai prespektif yang multi-dimensional mengakibatkan semakin beragamnya pemahaman beragama yang semakin lama semakin dinamis.

Rabu, 12 Oktober 2016

dunia ini semakin kejam, ya.

23:23 WIB. 11 Oktober 2016.
Malam ini kelopak mataku menolak untuk menutup.
Otakku terus menerus bekerja. Berpikir.

Beberapa jam yang lalu, aku berniat membantu sepasang suami istri untuk mencari sebuah alamat. Mereka berdua terlihat sangat kebingungan dan aku kasihan. Mereka butuh pertolongan dan aku berusaha membantu. Tetapi ternyata kebaikanku ternyata disalahgunakan. “Alamatnya ada di handphone, tapi handphone saya mati, boleh pinjam handphone adek untuk menelpon? Ada pulsanya?” “oh iya, ada, baru kemaren ditransfer 50rb sama ibu di rumah” “nanti pulsanya saya ganti” “oh ndapapa, nda usah” “maaf ya merepotkan, dek”. Mereka berdua naik sepeda motor, sedangkan aku disuruh berjalan karena tidak mungkin kita bertiga berboncengan. Kemudian di persimpangan jalan, mereka hilang tanpa jejak.

Senin, 12 September 2016

andai aku cantik, ya.


Sebelum aku benar-benar menuangkan isi pikiranku dalam tulisan ini. Aku berharap apa yang aku pikirkan hanyalah perasaanku semata. Semata-mata perasaan hanya karena pemikiran aneh dan semoga tidak benar-benar terjadi seperti apa yang aku pikirkan. Tapi pikiran ini cukup menggangguku. Dan kamu, tidak, tidak hanya kamu, tapi kalian semua yang membaca tulisan ini harus tau apa saja yang menggangguku.

Andai aku cantik.
Bukan. Ini bukan karena aku tidak mensyukuri apa yang sudah Allah berikan padaku. Tapi pemikiran “andai aku cantik” ini terus-menerus memenuhi pikiranku dan mulai terasa mengganggu.

Senin, 25 Juli 2016

kembali pulang


Setiap kali akan kembali lagi ke Jogja.
Entah kenapa selalu berpikir begini.


Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini aku bisa makan tiga kali sehari tanpa mengeluarkan biaya, tanpa perlu berpikir habis ini makan apa, tanpa perlu berpikir saldo di atm tinggal berapa. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini bisa mandi air panas setiap hari, tanpa perlu mengantri lama. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini aku memiliki kamar yang luas, tempat tidur yang lebar. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini mesin bisa membantu mencuci pakaian kotorku, televisi yang bisa ditonton kapan saja. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disana aku akan tetap sendirian.

Tapi aku harus kembali kesana.

Minggu, 17 Juli 2016

mulutmu, harimaumu.


Suatu hari, ada seorang anak yang sangat periang. Dia mengikuti berbagai macam perlombaan lari dan memenangkan banyak penghargaan. Semua orang menghargainya karena prestasinya tersebut.

Semuanya indah dan baik-baik saja hingga suatu hari dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Dokter hanya mengatakan sementara. Tapi entah kelumpuhan itu untuk berapa lama. Dia sedih sekali. Setiap hari dia menangisi waktu-waktu terbaik saat dia menerima trophy penghargaan dan mendengar sanjungan-sanjungan dari banyak orang. Setiap hari dia menangisi membayangkan hari-hari yang harus dia lalui dengan kondisinya sekarang ini.

Awalnya, banyak orang yang memberinya semangat, memberinya dukungan agar tidak menyerah dan terus menjalankan hidup dengan baik, walaupun itu harus dengan kursi roda. Hanya sementara, begitu kata mereka menyemangati.

Sabtu, 09 Juli 2016

rasanya tidak sebercanda itu.

Perasaan tidak bisa dianggap sebercanda itu. Persoalan hati tidak bisa dianggap segampang itu.

Berapa lama kenal sama aku? Apakah belum juga paham betapa sensitifnya perasaanku. Bahkan untuk lelucon-lelucon sederhana yang dianggap biasa saja.