Senin, 16 Oktober 2017

j-a-r-a-k

Jarak

Jarak bisa berarti banyak hal. Menjauhkan yang dekat. Mendekatkan yang jauh. Mendekatkan yang dekat. Atau bahkan menjauhkan yang sudah terlanjur jauh. It’s depending on your own “kebijaksanaan” dalam menghadapinya. It must be handle with care.


Berapa banyak penulis yang menceritakan betapa mengerikannya jarak. Berapa banyak komposer yang mendendangkan betapa menyedihkannya terpisah jarak.
How powerful distance is. And its beyond your imagination.


Rabu, 11 Oktober 2017

Definisi Merindu - KKN : Memories Last Forever (Part 03.)


"kau adalah puisi hati, di kala rindu tak bertepi..."


Oktober, 2017.

KKN sudah berakhir berbulan-bulan yang lalu.

Semua laporan, borang kegiatan, pertanggung-jawaban, semua sudah tuntas. Pun bahkan nilai KKN sudah terpampang cantik di portal akademik mahasiswa. Euforia KKN sudah berakhir. Seberapa keras aku berusaha untuk me-maintain kehangatan itu. Serba-serbi KKN-PPM UGM Periode Antar Semester 2017 telah benar-benar usai. Topik perbincangan pun sudah mulai berganti dengan hal-hal lain yang lebih diprioritaskan. Tapi kenapa aku masih saja stuck di dalam memori dua bulan KKN? Ketika semua sudah mulai bergerak dan memulai kehidupannya seperti biasa, kenapa aku masih bangun tidur dengan perasaan hampa seolah jiwaku masih tertinggal di dalam kenangan dua bulan itu? 


Ketika ditanya, hal apa yang paling berkesan di momen 2 bulan KKN?
Sedetik aku terhenyak kebingungan, hmmmm apa ya?

Minggu, 20 Agustus 2017

KKN : Memories Last Forever (Part 02.)


Karenanya kita dipaksa bersama, karenanya pula kita dipaksa berpisah. Namun tak ada satupun yang memaksa kita saling melupa..
-Meikel Andreyan Ginting a.k.a Kimi. Kormasit Sub Unit 04.

            Setelah diadakan penyambutan sederhana oleh Kepala Desa dan Perangkatnya, serta beberapa tokoh masyarakat di Balai Desa, kami diarahkan untuk menuju salah satu rumah yang kebetulan sedang melaksanakan doa bersama mengenang meninggalnya salah satu anggota keluarganya. Agak sedikit kikuk. Terutama karena kami menjadi pusat perhatian semua orang. Hujan rintik-rintik menjadi semakin deras. Sehingga walaupun acara telah usai, kami masih harus tetap ada disana menunggu hujan reda agar dapat kembali ke balai desa. Hujan disini sangat deras, tapi entah kenapa sinar matahari masih tidak mau mengalah juga.
Karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Balai Desa, maka akhirnya pengarahan oleh Bapak Arif, selaku Dosen Pembimbing Lapangan unit BBL-03 dilakukan di rumah itu. Walaupun unit kami dibagi menjadi empat sub unit, akan tetapi untuk hari ini saja, dengan mempertimbangkan banyak hal, kami dibedakan ke dalam dua pondokan, laki-laki sendiri dan perempuan sendiri, yang kemudian keesokan harinya barulah kami dibagi berdasarkan wilayah kerja masing-masing.

Jumat, 18 Agustus 2017

KKN : Memories Last Forever (Part 01.)



Sebagai intro, mungkin untuk yang agak awam sama istilah KKN-PPM UGM, maka aku akan berbaik hati dengan berbagi sedikit info mengenai KKN-PPM UGM itu seperti apa. KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) adalah salah satu mata kuliah wajib yang ditawarkan oleh Universitas Gadjah Mada, yang merupakan prasyarat untuk lulus bagi mahasiswa program D4 dan S1. KKN-PPM UGM adalah salah satu pembelajaran bagi mahasiswa dan sebagai bentuk nyata dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. KKN-PPM UGM dibawah komando dan pengawasan langsung dari LPPM UGM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) bagian Sub Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat terjun langsung ke masyarakat, untuk belajar bersosialisasi dan membantu memberikan penyelesaian atas permasalahan yang dihadapi masyarakat sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing, serta menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari di kelas pada kehidupan nyata. Dengan kata lain, mahasiswa akan dituntut untuk dapat menjadi agen perubahan bagi masyarakat.

Jumat, 23 Juni 2017

KKNlyfe


Maaf ya, lebaran tahun ini Nadia ngga bisa merayakan di Jember ataupun di Tulungagung. Nadia sedang mengabdi di tanah orang, tepatnya di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. UGM menyebarkan sekitar 6000 mahasiswanya pada setiap periode dalam kegiatan yang dinamakan KKN PPM (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) keseluruh wilayah Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke, mulai dari ujung Utara sampai ujung Selatan dibagi dalam wilayah K1, K2 Pulau Jawa dan K2 Luar Pulau Jawa. Salah satu lokasi yang dikeluarkan UGM sebagai lokasi KKN PPM periode antarsemester tahun 2017 adalah Bangka Belitung. Jauh? Iya. Karena Nadia merasa menjalankan program KKN di pulau Jawa tidak begitu menantang. Menurut Nadia, semakin jauh, Nadia akan mendapatkan pelajaran lebih. Dan ada gengsi juga disitu. Semakin jauh, semakin keren, kelihatannya hahaha.

Sabtu, 04 Februari 2017

masa lalu?


Well, setelah liburan semester yang cukup panjang (yang dihabiskan dengan makan-tidur-makan-tidur di rumah tanpa sekalipun muncul pemikiran sehabis-ini-makan-apa-ya karena begitu tiba di rumah, semua urusan perut sudah terjamin (re: perbaikan gizi)) sudah lewat, maka aku diharuskan kembali kepada rutinitas perkuliahan bahkan ketika kebanyakan universitas lain belum memulai kegiatan akademiknya alias masih pada libur. Yeah, congratulations, gamada! Wkwkw

Aku kembali duduk mendengarkan dosen di kelas. Kembali meresume jurnal-jurnal internasional, membuat paper, tugas presentasi, kuis, praktikum dan mengarang indah dalam pembuatan laporannya. Dengan menggunakan alasan “kalian kan sudah semester 6, tahun depan sudah mulai masuk lab penelitian kan?”, maka hampir sebagian besar dosen memberikan tugas bahkan ketika masih pertemuan pertama seperti ini. Baiklah, izinkan aku mengeluh pada paragraf ini. Setelah banyak semester aku lewati, ternyata masih belum juga terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Maafkan aku yang tidak berguna ini.

Selasa, 03 Januari 2017

orang-orang yang berpikiran pendek


Ide tulisan ini bermula dari semakin maraknya pemberitaan intoleransi beragama dan lain lainnya pada berbagai media sosial, baik cetak maupun elektronik. Apabila ada yang berpendapat bahwa menulis adalah hal yang mudah, sesungguhnya mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang sok tau yang berpikiran sempit. Tulisan ini sebenarnya adalah penggabungan antara paper mata kuliah pendidikan agama Islam yang sempat dikumpulkan sebagai tugas untuk ujian akhir semester kemarin, pesan broadcast salah satu teman di grup sosial media dan pemikiran pribadi. Sesungguhnya tulisan ini tidak berniat mendukung atau menjatuhkan golongan-golongan tertentu. Dibanding tulisan-tulisan sebelumnya (yang isinya hanya keluhan-keluhan anak remaja alay yang penuh drama), mungkin tulisan ini agak berbobot (sedikit).

Menurutku, benar jika beragama pada era dewasa ini memiliki tantangan tersendiri karena selain dihadapkan pada semakin banyaknya prespektif pemahaman yang berbeda dalam lingkup agama tertentu di satu sisi, di sisi lain umat beragama juga dihadapkan pada realitas beragama di tengah agama orang lain. Dari realitas yang semakin mengglobal tentang agama dan beragama yang berpadu dengan cepatnya perkembangan IPTEKS dalam berbagai prespektif yang multi-dimensional mengakibatkan semakin beragamnya pemahaman beragama yang semakin lama semakin dinamis.

Rabu, 12 Oktober 2016

dunia ini semakin kejam, ya.

23:23 WIB. 11 Oktober 2016.
Malam ini kelopak mataku menolak untuk menutup.
Otakku terus menerus bekerja. Berpikir.

Beberapa jam yang lalu, aku berniat membantu sepasang suami istri untuk mencari sebuah alamat. Mereka berdua terlihat sangat kebingungan dan aku kasihan. Mereka butuh pertolongan dan aku berusaha membantu. Tetapi ternyata kebaikanku ternyata disalahgunakan. “Alamatnya ada di handphone, tapi handphone saya mati, boleh pinjam handphone adek untuk menelpon? Ada pulsanya?” “oh iya, ada, baru kemaren ditransfer 50rb sama ibu di rumah” “nanti pulsanya saya ganti” “oh ndapapa, nda usah” “maaf ya merepotkan, dek”. Mereka berdua naik sepeda motor, sedangkan aku disuruh berjalan karena tidak mungkin kita bertiga berboncengan. Kemudian di persimpangan jalan, mereka hilang tanpa jejak.