Laman

Senin, 12 Maret 2018

part time worker.



Di semester akhir ini, aku cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur dan tidur. Sungguh sangat tidak bermanfaat. Sebenarnya banyak yang harus dilakukan, seperti penelitian, laporan KL dan seminar kelas. Tapi malas. Yaaa dipupuk saja terus itu malasmu, Nad.

Tidak, tidak. Aku tidak sepenuhnya malas kok. Karena seperti yang telah aku ceritakan di beberapa tulisan sebelumnya, aku sudah mengerjakan draf seminar kelas secara bertahap. Laporan KL pun sudah aku serahkan pada dosen pembimbing. Hanya penelitianku saja yang sudah seperti senam poco-poco: maju satu langkah mundur dua langkah. Tapi Allah memang Maha Baik, draf seminar kelas sudah aku rampungkan dengan bantuan Kipran dan kompor dari Fakhri. Bahkan sudah kuserahkan pada komisi akademik departemen minggu kemaren dan sudah mendapatkan dosen pembimbing. Walaupun perkiraanku tentang siapa dosen yang akan membimbing seminarku agak meleset. Dosen yang terpilih agak failed, tapi ya nggak apa-apa. Anggaplah tantangan.

Jadi pada intinya, aku tinggal menunggu revisian dari dosen pembimbing KL dan dosen pembimbing seminar kelas saja.

Kamis, 15 Februari 2018

med-sos addict.


Semakin lama hampir semua aplikasi media sosial mengupdate fiturnya. Selain untuk memudahkan penggunanya, juga tentu saja untuk bersaing dengan aplikasi-aplikasi lain. Aku adalah pengguna media sosial aktif, antara lain Instagram, Twitter, Facebook, Blogger, Line, WhatsApp, LinkedIn, Soundcloud dan Google+. Lumayan banyak aplikasi yang aku gunakan, walaupun handphone murahan yang kapasitas storagenya pas-pasan, yang sering kali harus clear data beberapa aplikasi untuk meringankan kerja ROM handphone yang sangat ringkih, yang makin hari makin lemot dan dikit-dikit hang. Tanda-tanda minta segera diganti nih #nyanyiankode.

Jadi edisi kali ini, aku ingin bercerita alasanku, kenapa tetap bertahan menggunakan aplikasi media sosial sebanyak itu.


Minggu, 11 Februari 2018

aku dan obsesiku.


Tolong dong, aku minta penjelasan yang scientific, kenapa sekarang aku menjadi semakin hobi melihat crane tower?


Pertanyaan itulah yang kemudian, tiba-tiba membuatku ingin menulis ini. Suddenly, I wanna talk about obsession.


Sebenernya, pingin banget ngelanjutin cerita tentang 1 bulan melelahkan yang seru di Jabodetabek, tapi ternyata melanjutkan cerita tentang itu bukanlah merupakan suatu hal yang mendesak. Karena pada kenyataannya, sepulang dari sana, aku kembali dihadapkan pada rutinitas ngelab, yang walaupun SKS sudah habis, tapi sekarang aku dibebani laporan kegiatan KL, draf seminar kelas dan tentu saja gongnya adalah skripsi. Aku terbebani oleh target yang aku buat sendiri dan semakin terbebani karena melihat teman-teman seperjuanganku sudah banyak yang menyandang gelar sarjana. Well, “aku kapan?”, pertanyaan itulah yang selalu dan terus menerus aku tanyakan tanpa tahu apa jawabannya.

Senin, 01 Januari 2018

Lost in Jabodetabek (Part 01): Permulaan


Dalam rangka untuk menyelesaikan studi di tingkatan Strata-1, maka aku diwajibkan untuk menuntaskan mata kuliah Kerja Praktek/Kerja Lapangan dengan bobot 2/0 SKS. Karena pemilihan lokasi KKN kemaren aku sudah memilih wilayah luar jawa, yaitu di wilayah Sumatera Kepulauan, tepatnya di Kepulauan Bangka Belitung, maka aku menginginkan lokasi KL/KP ini tidak terlalu jauh dari kampung halamanku. Yah. Rencana hanya berakhir sebagai rencana. Setelah mengirimkan surat permohonan perijinan KL ke entah berapa puluh perusahaan via email, akhirnya diterimalah aku di sebuah perusahaan pengolahan air di Tangerang, Banten. Cukup jauh dari niatan KL di sekitar Jawa Timur. Yasudah, daripada makin ribet dengan mencari dan menunggu konfirmasi dari perusahaan yang tidak jelas kapan memberikan kepastian, aku sih lebih memilih yang sudah pasti diterima, ya. Harapannya sih biar KL cepet dimulai, cepet selesai dan bisa fokus penelitian di lab dengan tenang.

So here I am.
Berdua sama Fakhri, menantang kerasnya kehidupan di Jabodetabek.

Selasa, 05 Desember 2017

what if?



yap. takdir, katanya.


kadang bertanya-tanya kenapa dulu aku begitu yakin memilih mikrobiologi walaupun hasrat dan impian sejak kecil jadi arsitek. kenapa dulu hanya memilih mikrobiologi tanpa sekalipun terpikir untuk berani mengambil resiko mencoba teknik arsitektur.





jadi, mari kita bermain-main dengan "what if".







Senin, 16 Oktober 2017

j-a-r-a-k

Jarak

Jarak bisa berarti banyak hal. Menjauhkan yang dekat. Mendekatkan yang jauh. Mendekatkan yang dekat. Atau bahkan menjauhkan yang sudah terlanjur jauh. It’s depending on your own “kebijaksanaan” dalam menghadapinya. It must be handle with care.


Berapa banyak penulis yang menceritakan betapa mengerikannya jarak. Berapa banyak komposer yang mendendangkan betapa menyedihkannya terpisah jarak.
How powerful distance is. And its beyond your imagination.


Rabu, 11 Oktober 2017

Definisi Merindu - KKN : Memories Last Forever (Part 03.)


"kau adalah puisi hati, di kala rindu tak bertepi..."


Oktober, 2017.

KKN sudah berakhir berbulan-bulan yang lalu.

Semua laporan, borang kegiatan, pertanggung-jawaban, semua sudah tuntas. Pun bahkan nilai KKN sudah terpampang cantik di portal akademik mahasiswa. Euforia KKN sudah berakhir. Seberapa keras aku berusaha untuk me-maintain kehangatan itu. Serba-serbi KKN-PPM UGM Periode Antar Semester 2017 telah benar-benar usai. Topik perbincangan pun sudah mulai berganti dengan hal-hal lain yang lebih diprioritaskan. Tapi kenapa aku masih saja stuck di dalam memori dua bulan KKN? Ketika semua sudah mulai bergerak dan memulai kehidupannya seperti biasa, kenapa aku masih bangun tidur dengan perasaan hampa seolah jiwaku masih tertinggal di dalam kenangan dua bulan itu? 


Ketika ditanya, hal apa yang paling berkesan di momen 2 bulan KKN?
Sedetik aku terhenyak kebingungan, hmmmm apa ya?

Minggu, 20 Agustus 2017

KKN : Memories Last Forever (Part 02.)


Karenanya kita dipaksa bersama, karenanya pula kita dipaksa berpisah. Namun tak ada satupun yang memaksa kita saling melupa..
-Meikel Andreyan Ginting a.k.a Kimi. Kormasit Sub Unit 04.

            Setelah diadakan penyambutan sederhana oleh Kepala Desa dan Perangkatnya, serta beberapa tokoh masyarakat di Balai Desa, kami diarahkan untuk menuju salah satu rumah yang kebetulan sedang melaksanakan doa bersama mengenang meninggalnya salah satu anggota keluarganya. Agak sedikit kikuk. Terutama karena kami menjadi pusat perhatian semua orang. Hujan rintik-rintik menjadi semakin deras. Sehingga walaupun acara telah usai, kami masih harus tetap ada disana menunggu hujan reda agar dapat kembali ke balai desa. Hujan disini sangat deras, tapi entah kenapa sinar matahari masih tidak mau mengalah juga.
Karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Balai Desa, maka akhirnya pengarahan oleh Bapak Arif, selaku Dosen Pembimbing Lapangan unit BBL-03 dilakukan di rumah itu. Walaupun unit kami dibagi menjadi empat sub unit, akan tetapi untuk hari ini saja, dengan mempertimbangkan banyak hal, kami dibedakan ke dalam dua pondokan, laki-laki sendiri dan perempuan sendiri, yang kemudian keesokan harinya barulah kami dibagi berdasarkan wilayah kerja masing-masing.