Laman

Minggu, 22 Juli 2018

semua akan ada waktunya.

When you feel exhausted, don't hold back, it's okay to be down -orange-
Sedang musimnya tertekan dan depresi melihat teman-teman seangkatan satu per satu mulai menyelesaikan kewajibannya di kampus. Sedang musimnya iri melihat raut bahagia teman-teman yang berhasil menanggalkan status mahasiswanya. Sedang musimnya mengeluh dan sambat karena penelitian dan skripsi belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sedang musimnya muak akan pertanyaan "semester berapa" "kapan sidang" "kapan wisuda"

Senin, 25 Juni 2018

the perks of being "ga enakan"

Jadi, aku pengen cerita aja, cuman mungkin kurang pandai cara penyampaiannya yang benar, jadi monmaap kalo kata-katanya belepotan dan melenceng dari judul.

Terlahir sebagai orang jawa, yang katanya suka sekali basa-basi dan ga enakan sekedar untuk kesopanan. Well, menurutku ini sangat kurang menguntungkan, terutama untukku.


Jadi orang nggak enakan itu nggak enak. Minjemin duit ke temen, ditagih alesannya belum ada duit, ya sama gw juga kaga ada duit, trus lama-lama jadi ga enak sendiri. ini napa jadi yang minjemin duit yang ngerasa ga enak. Segan nolak permintaan orang. Mau minta tolong ke orang pun sungkan.

Niat basa-basi tapi jatuhnya malah failed. Udahlah, kalo aku mending tutup mulut aja. Itulah gunanya headset dan masker. Mencegah percakapan yang tidak perlu.

Kamis, 07 Juni 2018

sayonara.

One by one they’ve gone. They choose their own path, walk by their dreams. Time passed just too fast. -mbak sasa


Seperti sebuah lagu,
Datang akan pergi.
Lewat akan berlalu.
Ada akan tiada.
Bertemu akan berpisah.
Awal akan berakhir.
Terbit akan tenggelam.
Pasang akan surut.

Setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Dan masing-masing dari kita dipertemukan takdir karena sebuah alasan. Hidup memiliki siklus kehidupan, dimana semua yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi telah digariskan. Seberapa besar kamu menolak untuk berubah, perubahan adalah sebuah kepastian, dan kepastian itu adalah ketidakpastian.

Senin, 12 Maret 2018

part time worker.

Di akhir semester ini, aku cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur dan tidur. Sungguh sangat tidak bermanfaat, ya?

Sebenarnya banyak yang harus dilakukan, seperti penelitian, laporan KL dan seminar kelas. Tapi malas. Yaaa dipupuk saja terus itu malasmu, Nad.

Tidak, tidak. Aku tidak sepenuhnya malas kok. Karena seperti yang telah aku ceritakan di beberapa tulisan sebelumnya, aku sudah mengerjakan draf seminar kelas secara bertahap. Laporan KL pun sudah aku serahkan pada dosen pembimbing. Hanya penelitianku saja yang sudah seperti senam poco-poco: maju satu langkah mundur dua langkah. Tapi Allah memang Maha Baik, draf seminar kelas sudah aku rampungkan dengan bantuan Kipran dan kompor dari Fakhri. Bahkan sudah kuserahkan pada komisi akademik departemen minggu kemaren dan sudah mendapatkan dosen pembimbing. Walaupun perkiraanku tentang siapa dosen yang akan membimbing seminarku agak meleset. Dosen yang terpilih agak failed, tapi ya nggak apa-apa. Anggaplah tantangan.

Jadi pada intinya, aku tinggal menunggu revisian dari dosen pembimbing KL dan dosen pembimbing seminar kelas saja.

Kamis, 15 Februari 2018

med-sos addict.

Semakin lama hampir semua aplikasi media sosial mengupdate fiturnya. Selain untuk memudahkan penggunanya, juga tentu saja untuk bersaing dengan aplikasi-aplikasi lain. Aku adalah pengguna media sosial aktif, antara lain Instagram, Twitter, Facebook, Blogger, Line, WhatsApp, LinkedIn, Soundcloud dan Google+. Lumayan banyak aplikasi yang aku gunakan, walaupun handphone murahan yang kapasitas storagenya pas-pasan, yang sering kali harus clear data beberapa aplikasi untuk meringankan kerja ROM handphone yang sangat ringkih, yang makin hari makin lemot dan dikit-dikit hang. Tanda-tanda minta segera diganti nih #nyanyiankode.

Jadi edisi kali ini, aku ingin bercerita alasanku, kenapa tetap bertahan menggunakan aplikasi media sosial sebanyak itu.


Minggu, 11 Februari 2018

aku dan obsesiku.

Tolong dong, aku minta penjelasan yang scientific, kenapa sekarang aku menjadi semakin hobi melihat crane tower?

Pertanyaan itulah yang kemudian, tiba-tiba membuatku ingin menulis ini. Suddenly, I wanna talk about obsession.

Sebenernya, pingin banget ngelanjutin cerita tentang 1 bulan melelahkan yang seru di Jabodetabek, tapi ternyata melanjutkan cerita tentang itu bukanlah merupakan suatu hal yang mendesak. Karena pada kenyataannya, sepulang dari sana, aku kembali dihadapkan pada rutinitas ngelab, yang walaupun SKS sudah habis, tapi sekarang aku dibebani laporan kegiatan KL, draf seminar kelas dan tentu saja gongnya adalah skripsi. Aku terbebani oleh target yang aku buat sendiri dan semakin terbebani karena melihat teman-teman seperjuanganku sudah banyak yang menyandang gelar sarjana. Well, “aku kapan?”, pertanyaan itulah yang selalu dan terus menerus aku tanyakan tanpa tahu apa jawabannya.

Senin, 01 Januari 2018

Lost in Jabodetabek (Part 01): Permulaan

Dalam rangka untuk menyelesaikan studi di tingkatan Strata-1, maka aku diwajibkan untuk menuntaskan mata kuliah Kerja Praktek/Kerja Lapangan dengan bobot 2/0 SKS. Karena pemilihan lokasi KKN kemaren aku sudah memilih wilayah luar jawa, yaitu di wilayah Sumatera Kepulauan, tepatnya di Kepulauan Bangka Belitung, maka aku menginginkan lokasi KL/KP ini tidak terlalu jauh dari kampung halamanku. Yah. Rencana hanya berakhir sebagai rencana. Setelah mengirimkan surat permohonan perijinan KL ke entah berapa puluh perusahaan via email, akhirnya diterimalah aku di sebuah perusahaan pengolahan air di Tangerang, Banten. Cukup jauh dari niatan KL di sekitar Jawa Timur. Yasudah, daripada makin ribet dengan mencari dan menunggu konfirmasi dari perusahaan yang tidak jelas kapan memberikan kepastian, aku sih lebih memilih yang sudah pasti diterima, ya. Harapannya sih biar KL cepet dimulai, cepet selesai dan bisa fokus penelitian di lab dengan tenang.

So here I am.
Berdua sama Fakhri, menantang kerasnya kehidupan di Jabodetabek.

Selasa, 05 Desember 2017

what if?



yap. takdir, katanya.


kadang bertanya-tanya kenapa dulu aku begitu yakin memilih mikrobiologi walaupun hasrat dan impian sejak kecil jadi arsitek. kenapa dulu hanya memilih mikrobiologi tanpa sekalipun terpikir untuk berani mengambil resiko mencoba teknik arsitektur.





jadi, mari kita bermain-main dengan "what if".