Rabu, 23 April 2014

aku ingin menulis tentang kamu.

Aku ingin menulis tentangmu. Lagi. Mengeluarkan semua hal yang sudah serumit benang kusut di dalam otakku. Aku ingin menulis tentangmu. Tapi pikiranku mendadak membeku. Aku tidak tahu harus memulai dari bagian mana. Aku tidak tahu bagaimana awalnya dan aku tidak mau memikirkan bagaimana akhirnya.
Aku ingin menulis tentangmu. Tentang bagaimana indahnya senyumanmu. Tentang bagaimana suara gelak tawamu. Tentang semua kekonyolan-kekonyolan yang kau lakukan. Aku ingin menulis tentang bagaimana aku jatuh hati padamu. Tentang bagaimana setiap hal kecil yang kau lakukan bisa membuat duniaku berwarna. Tentang bagaimana kau datang bagai hujan membasahiku yang kering kerontang. Tentang bagaimana aku suka memperhatikan lipatan-lipatan kelopak matamu. Tentang bagaimana aku yang tak pernah berhenti terpesona melihat jari-jarimu menyentuh senar itu.
Aku ingin menulis tentangmu. Seperti mereka. Yang selalu bisa menulis tentang orang yang mereka sayangi.

Selasa, 22 April 2014

aku dan apa yang mereka sebut sebagai ujian nasional

Dan disinilah aku sekarang.
Duduk di belakang meja kayu di sebuah ruang ujian dalam ketegangan yang sungguh sangat menyebalkan. Tidak, tentu saja aku tidak sendirian. Ada sembilan belas anak lain yang juga bernasib sama denganku di ruangan ini. dan masih ada ribuan anak lain seumuranku yang juga merasakannya. Ketika kami diharuskan....ah tidak, karena memang ini sudah seharusnya bagi kami, untuk menghadapi hal sesuatu semacam ini. sesuatu yang mereka sebut, ujian nasional.
Aku rasa, tidak hanya aku yang berkeringat dingin ketika menatap lembaran-lembaran kertas soal yang ada di hadapanku. Aku tahu aku bukan satu-satunya. Bahkan kupikir ada yang mengalami hal yang jauh lebih buruk dari ini. dan aku bersyukur karena itu. dan entah bagaimana rasa tegang yang menyelimuti pikiranku sejak seminggu yang lalu, kini menguap begitu saja. Hanya saja, yang aku agak khawatirkan adalah perasaan bahwa semua hal yang aku pelajari berbulan-bulan yang lalu juga ikut dibawa pergi.
Aku sepertinya sudah mati rasa. Atau jangan-jangan saraf tubuhku lah yang tidak bekerja dengan baik. perkataanku barusan bukan tanpa alasan. Karena aku selalu tegang pada hal-hal sepele, dan bersikap santai pada hal-hal yang penting. Seperti saat ini misalnya. Aku memandang sekelilingku. Kenapa pula raut wajah mereka tampak teramat serius? Ada yang salah disini. Karena aku baik-baik saja, maksudku, aku tidak seserius mereka. Aku hanya lebih kepada...marah.

Minggu, 06 April 2014

For you, mom.

Teruntukmu, wanita teristimewa yang sudah merawatku sampai sebesar ini.
Teruntukmu, wanita terhebat yang sudah mendidikku sampai aku sedewasa ini.

Hi, mom!
Yeah, this is for you.

Dulu aku sukanya ngompol, tapi ibu masih mau nggendong aku. Dulu aku sukanya nangis, tapi ibu masih mau nyuapin aku. Dulu aku sukanya rewel, tapi ibu masih mau ngurusin aku. Dulu aku sukanya ngambek, tapi ibu masih sayang sama aku.

Dulu aku sukanya coret-coret tembok, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya kertas gambar. Dulu aku sukanya gambar pake pensil, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya crayon. Dulu aku sukanya teriak-teriak, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya vocal grup. Dulu aku tulisan aku kaya ceker ayam, lalu ibu ngenalin aku sama kerapian. Dulu aku sukanya robek-robek kertas, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya origami. Dulu aku sukanya gunting-gunting kain, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya kerajinan tangan. Dulu aku nggak bisa apa-apa, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya keterampilan. Dulu aku sukanya marah, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya kesabaran. Dulu aku sukanya pelit, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya berbagi. Dulu aku sukanya ngeluh, lalu ibu ngenalin aku sama yang namanya kerja keras.