Jumat, 18 Desember 2015

manusia dan etika


in many ways, kamu akan melihat kalau manusia jaman sekarang boleh dibilang sudah kehilangan etika dan norma yang membuatnya lebih beradab jika dibandingkan dengan binatang. aku menulis ini bukan untuk menilai ataupun menghakimi orang lain, aku menulis ini untuk menilai bagaimana diriku. aku menulis ini bukan untuk dibaca orang lain kemudian ditertawakan, aku menulis ini karena ini caraku berbicara dengan diriku sendiri. 


ketika banyak yang berkata bahwa jaman sekarang sudah berbeda jika dibandingkan dengan jaman dulu. sudah tidak bisa dibanding-bandingkan. memang. mereka benar. jaman sudah berubah, pun demikian dengan manusia yang hidup di dalamnya. menilik kalimat tersebut, maka aku juga termasuk ke dalam manusia yang berubah itu.




Minggu, 06 Desember 2015

terbuka.

"karena kita keluarga, terutama untuk acara dua hari ini, peraturannya kita pake asas keterbukaan ya. kalo memang ngerasa sakit ngga enak badan, atau ada masalah apa monggo silahkan bilang aja. kita pasti bantu. nggak usah sok tegar. paham semua kan?"

itu yang nando bilang. bahkan belum dapet full dua hari, tapi aku masih mempertanyakan asas keterbukaan yang nando maksut.

terutama karena kejadian sore ini.

Jumat, 27 November 2015

pulang.

Rumah?

Sebenernya apasih yang bisa disebut rumah itu. Bangunan beratap dengan kasur bantal dan guling di dalamnya? Atau apa? Sebenernya apa yang bisa dan layak aku sebut sebagai rumah? Kriteria apa yang memenuhi untuk kemudian bisa disebut rumah. Dan ketika aku bilang, “I wanna go home,” sebenernya ‘home’ seperti apa yang ingin aku tuju? Walaupun aku masih belum mampu menjawab pertanyaan yang aku ajukan sendiri, aku rasa tidak semua tempat bisa disebut rumah, dan tidak semua tempat akan terasa seperti rumah. Dan aku pikir, kalian juga setuju.




Selasa, 17 November 2015

lari dari kenyataan


kedewasaan ngga bisa dinilai dari umur.
bisa jadi sudah menginjak umur 30-an tapi masih belum mampu memahami diri sendiri dan belum mampu menempatkan diri berdasarkan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. bisa jadi pula walaupun belum genap 15 tahun tapi sudah mampu memandang jauh ke depan, mampu peka terhadap sekitarnya, mampu berdamai akan masalah pada dirinya sendiri.

kedewasaan ngga bisa dilihat dari status seseorang.
lantas karena sudah mahasiswa harus dewasa dan karena masih bocah smp lalu kekanakannya selalu ditolerir? mahasiswa hanya diharuskan untuk bersikap dewasa karena dia lebih lama mengenyam ilmu dibanding bocah smp tadi, karena dia berpendidikan dan dibesarkan dengan ilmu-ilmu pasti dan sosial yang belum dipelajari bocah smp tadi, karena dia lebih dulu hidup besar menghadapi kerasnya kenyataan dibanding bocah smp tadi.


maka sudah seharusnya seorang mahasiswa malu jika kalah dewasa dengan bocah smp. logika sederhananya seperti itu.









Senin, 09 November 2015

anak kuliahan vs anak sma


setelah satu setengah tahun saya lewati dengan status seorang mahasiswa. siswa dengan segala kemahaannya. yang katanya karena kekuatan mahasiswa-lah rezim orde baru berhasil diganti. yang katanya suara mahasiswa-lah yang mampu mewakili suara rakyat. mahasiswa. begitu agung dengan awalan maha di di depan kata siswanya.

yang jelas, secara nyata, tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa itu lebih besar dan lebih berat dari tanggung jawab anak sekolahan biasa. 

setelah satu setengah tahun menyandang status mahasiswa, kesimpulan yang bisa diambil adalah, ngga enak. nggak enak jadi mahasiswa. kalo disuruh milih mah mending jadi anak sekolahan aja, yang masih bisa nakal masih bisa urakan kelayapan dan masih diberi toleransi, walaupun setiap senin pagi harus desel-deselan di lapangan sekolah buat ikut upacara. tapi aku bakal ngasih apa aja yang aku punya supaya aku bisa kembali ke masa-masa kejayaan itu, masa sma.

Sabtu, 07 November 2015

mungkin lebih ke....hati?






empati?
simpati?

tiba-tiba ingin sekedar membagi apa yang mengusik pikiran. yang rasanya menusuk-nusuk dan membuat otak seketika memberi perintah untuk mengeluarkan air mata lewat kelopak mata indah ciptaan Allah ini.


sepertinya aku dulu pernah bercerita lewat tulisanku di blog ini sebelum ini, tentang bagaimana aku tidak mampu menahan perasaan penuh kesakitan saat melihat betapa apa yang terjadi di dunia ini terlalu tidak adil, terlalu tidak sesuai pada tempatnya. dan betapa rasa sakit itu bertambah ketika aku bahkan belum mampu melakukan apapun untuk mungkin setidaknya mengubah keadaan, memperbaiki keadaan, menempatkan apa yang seharusnya ada pada tempatnya.

Minggu, 25 Oktober 2015

ketika aku bilang aku cinta tapi tanpa alasan

sebenernya sudah lama aku pengen cerita ini. sebuah cerita yang sebenernya bakal sulit banget buat diceritakan lewat lisan dan akan lebih sulit lewat tulisan. tapi aku sedang ingin bercerita, dan setelah sekian lama aku cuma bisa bicara sama pikiran di kepalaku sendiri, akhirnya aku ngga punya kuasa buat nahannya.

ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana aku jatuh cinta sama IKPMJ. sebuah cerita tentang bagaimana aku jatuh cinta sama Asrama Putra Jember. dan semuanya terjadi begitu saja, seperti helai-helai ilalang yang terbang terbawa hembusan angin, aku jatuh cinta dan aku tidak punya daya upaya untuk menolaknya.

aku cuma pingin kalian semua, baik yang secara tidak sengaja membaca blog milik orang tidak berguna ini, atau yang memang dengan kesadaran penuh menjadi pembaca setia (hehe), supaya kalian tau bahwa aku besyukur aku ada di Jogja dengan segala keistimewaannya, bahwa aku bangga menjadi bagian dari Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Jember di Yogyakarta, bahwa aku dengan sangat sangat bangga bisa mendapatkan rumah keduaku, Asrama Putra Jember.


Selasa, 29 September 2015

itu aja.


pernah? bangun tidur dengan perasaan hampa, kosong, linglung butuh pegangan dan yang pingin kamu lakuin cuma ketemu sama seseorang, atau setidaknya mendengar suaranya, menyemangatimu, mungkin? jadi apa pernah? kalau aku, sering. sering bangun tidur dengan perasaan seperti itu, dan tidak ada yang ingin dilakukan selain tetap tinggal di tempat tidur, masa bodoh dengan kelas pagi.


perasaan itu, rasa sakitnya nyata.
aku bingung harus menceritakannya dari sisi mana terlebih dahulu.

berusaha buat ngga dirasakan dan tetep menjalani aktivitas seperti biasa itu ya rasanya penuh kebohongan. mau sampai kapan pura-pura bahagia? bahkan ketika aku ingin bercerita ujungnya selalu seperti ini, mengeluh mengeluh mengeluh terus saja mengeluh sampai manusia bisa tinggal di planet pluto.


aku cuma......... merasa ngga dihargai.
itu aja.





Minggu, 20 September 2015

go back sleep


tidur.
kalo dimasukkan ke dalam skala kebutuhan manusia, rasanya tidur ini bolehlah buat menempati kelompok kebutuhan primer manusia. bukan cuma manusia sih sepertinya, bahkan hewan pun butuh tidur. kita semua butuh tidur. betapa pentingnya tidur, sampai mereka yang secara kurang beruntung tidak bisa tidur dengan baik bisa stress dan mengonsumsi obat tidur agar dapat tidur dengan baik. sudah banyak artikel-artikel kesehatan yang mengatakan bahaya dari kurang tidur. walaupun sebenarnya kelebihan jam tidur juga tidak baik bagi kesehatan, tetapi yang lebih digaris-bawahi adalah kurang tidur.

normalnya kita tidur karena mengantuk, atau ketika kita lelah sehabis beraktifitas, atau ketika kita sakit dan diharuskan berinstirahat. tidur itu mengistirahatkan badan, karena kita tidak bisa selamanya beraktifitas tanpa istirahat. manusia punya batasan. manusia bukan robot. ah, bahkan robotpun bisa korslet jika terus menerus bekerja.

Minggu, 13 September 2015

biarkan ditiup angin


Kemaren baru kelar gathering IKPMJ 2015 di Asrama Putra Jember. Bertemu wajah-wajah baru, nama-nama baru, wajah lama yang baru, dan wajah lama yang akan terasa selalu baru. Klise ketika aku bilang waktu telah berlari dengan sangat cepat bahkan tanpa disadari. Tidak terasa seperti udara yang sedang kamu hirup saat ini. Tiba-tiba saja sekarang kamu sudah berumur 19 tetap dengan ketidaktahuan dan kepolosan yang walau agak sedikit kontam oleh lingkungan sekitarmu. Tiba-tiba saja sudah satu tahun berlalu dan kamu bukan lagi seorang mahasiswa baru yang dipenuhi dengan euforia menggebu-gebu saat pertama kali memakai jas almamater kampus idamanmu. 

Waktu terus berlalu.
Tapi aku berharap kamu dan semua yang ada di sekitarku ada selalu sama.









Selasa, 01 September 2015

please, tez.


sudah lama ngga nulis,
jadi,
cuma pengen sedikit cerita.



"Belajar bilang langsung, aku ngga bakal tau kalo kamu nda bilang,"


setiap manusia punya pemikirannya tersendiri akan suatu hal. tapi ngga semua bakal mau cerita, ngga semua ingin menceritakan apa yang dia pikirin. tapi beberapa ngga bisa kalo cuma diem dan berpura-pura semuanya baik-baik aja. aku ngga tau aku termasuk tipe orang yang mana, yang akan diam atau yang akan selalu cerita, atau mungkin aku bagian dari keduanya. tetapi satu hal yang aku tau, aku nggak akan selalu bisa diam, tapi aku ngga bisa selalu cerita. rasa nyaman, adalah kriteria minimum buat aku supaya bisa cerita apa yang aku rasain ke orang lain. mungkin aku biasa cerita lewat tulisan, atau mungkin ngga terbiasa cerita secara langsung, tapi kamu selalu bilang kalo aku harus belajar mengutarakan apa yang aku rasain secara langsung.

banyak yang pingin aku ceritain. begitu banyak sampai aku ngga tau dari ujung mana dulu aku harus mulai. ada banyak yang aku rasain, begitu banyak sampai aku ngga tau dengan jelas rasa apa yang sebenernya ingin aku ceritakan. tapi ngga tau kenapa, aku ngerasa semua yang aku ceritakan itu justru jatuhnya seperti sedang terus menerus mengeluh. padahal....mungkin iya, tapi ngga sepenuhnya. ah, aku kan cuma pingin cerita apa yang aku rasain.....

kamu selalu bilang kalo kamu bukan pembaca pikiran, kamu ngga bisa langsung tau ngga bisa langsung paham apa yang aku rasain apa yang  aku pikirin. karena aku sendiripun masih sering ngga paham apa yang aku rasain, masa orang lain akan langsung paham apa yang bahkan aku masih belajar memahaminya.


Selasa, 28 Juli 2015

#stopmosstopbullying


Chat absurd di grup line, bikin aku pingin nulis ini. Setelah sekian lama cuma bisa nulis soal hal-hal lain dan ngesave di draft karena merasa tulisan tersebut tidak patut diketahui umum, akhirnya aku bisa menemukan topik lain yang sedang hot saat ini. Tulisan ini lebih ke opini pribadi, untuk yang berbeda pendapat disilahkan, ini lebih ke sharing tanpa bermaksut menghakimi, memojokkan, ataupun hal negatif lainnya. Biarlah mungkin aku ngga se-hitz mereka-mereka yang posting soal bagaimana menghabiskan lebarannya kemaren, bagaimana reuninya dengan kawan-kawan lamanya, atau bagaimana adik-adiknya terlihat lucu dan imut di dalam balutan seragam di hari pertama mereka masuk ke sekolah. Maka aku cukupkan diriku dengan postingan agak berbobot ini.

Rabu, 15 Juli 2015

Rabu, 27 Mei 2015

wanna join?

“tau mbah-mbah yang jual gudeg di pinggir jalan kalo mau ke asrama nggak?”
“iya tau”
“bukan yang arah ke ringroad itu, arah sebaliknya. Yang deket apotik gejayan itu”
“iya tau. Kenapa?”
“aku kasian kalo liat”
“lah, kasian kenapa?”
“iya, yang beli cuma dikit”
“lah kan namanya juga jualan kan”
“iya tapi ibu-ibu di seberangnya pembelinya banyak”
“ya salah siapa mbahnya jualannya di sebelah situ kan”
“ya tapi ndak tega aja gitu liatnya. Biasanya kan kalo orang jual gudeg gitu jam 10-11an udah nutup kan soalnya dagangannya abis. Lah itu mbahnya kalo tak perhatiin ben aku ke asrama, jam 1-an itu masih tetep jualan. Kan kasian”
“lah kamu sendiri kok ndak beli?”
“ndak berani..”

Kadang suka nggak suka setiap liat kejadian semacam ini. Ketika kehidupan orang di sekitarmu rasanya udah kaya bumi dan langit. Ada yang tiap beli sepatu langsung bayar cash, padahal ada temennya yang cuma bisa ngeliatin doang. Atau ada yang sampe nyari makanan di tempat sampah, padahal ada yang beli makanan selalu banyak dan berlebih sampe dibuang-buang.

Minggu, 22 Maret 2015

okay, then?

“kamu punya keinginan kuliah ke luar negeri nggak sih, nad?”
“hm? Ya iyalah. Siapa coba sih yang nggak pingin bisa ngelanjutin kuliah di luar negeri?”
“tapi tak lihat kamu kok kayaknya biasa-biasa aja gini, kaya nggak punya keinginan kayak gitu”
“nah loh, kok bisa?”
“iya, ku lihat kamu ini anaknya cuma nganggep kuliah sama belajar buat formalitas doang”
“hahaha kok bisa mikir gitu?”
“ya lagian kamu kalo jalan trus ketemu bule gitu mukanya nggak ada sumringah-sumringahnya. Trus ku perhatikan kamu anaknya santai gini. Banyak mainnya. Belajar cuma kalo sempet doang..”

Agak sebel juga waktu di judge kaya begini sama orang yang bahkan belum bener-bener mengenalmu. Terus apa dengan kamu nilai aku begitu, kamu bakal lulus lebih cepat dari aku? Nggak kan? Semoga enggak deh hahahaha :))

Sabtu, 21 Maret 2015

i love you, anyway


Walaupun kamu tiap dikodein nggak peka

Walaupun kamu sering menduakan aku sama skripsimu

Walaupun kamu suka lupa sama aku kalo lagi hedon

Walaupun kamu suka nggak inget kalo punya pacar kalo udah main brave frontier

Walaupun kamu nggak ganteng

Walaupun kamu suka nyuekin aku kalo udah keasikan sama temenmu

Walaupun kamu nggak jago main gitar

Walaupun kamu nggak jago gambar

Walaupun kamu kalo ngelucu garing

Walaupun kamu kalo udah jalan ke mall suka hebring sendiri

Walaupun kamu suka ribet sendiri udah kek anak cewek

Walaupun kamu sukanya makan manis berlemak sampe perutnya punya naga

Kamis, 12 Maret 2015

sugar.

"Pernah tau nad, orang yang meninggal gegara kebanyakan minum air putih atau karena kelebihan oksigen?"
"Belum nih. Emang ada po?"
"Adaa. Kamu tau kesimpulannya apa?"
"Hm? Emang apa?"
"Kalo segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik"


Buat aku, kamu itu seperti gula. Manisnya menyenangkan tapi berlebihan nggak bagus untuk tubuh. Bikin sakit diabetes salah satunya.

Sabtu, 07 Maret 2015

choose it, wisely.

“aku minta ijin ya sama kamu. Minta pengertiannya. Seandainya nanti di Jogja mungkin kamu merasa dinomerduakan kalo aku lagi sama skripsiku. Bukan berarti kamu nggak penting, tapi skripsi ini juga jadi tanggung jawabku. Tapi jangan jadikan skripsiku ini alasan buat kamu nahan diri buat nggak ketemu aku.”

Nggak ada yang namanya nggak punya waktu. Nggak ada yang namanya lupa. Nggak ada yang namanya nggak sempet. Nggak ada yang namanya sibuk. Semua itu tergantung akan bagaimana kamu mengatur urutan prioritasmu. Dan ketika kamu diletakkan pada urutan kedua dalam daftar prioritas seseorang, tidak berarti karena kamu tidak penting. Tapi karena ada hal lain yang sifatnya lebih mendesak untuk segera direalisasikan sehingga harus diletakkan pada urutan prioritas nomer satu di dalam daftarnya. Seperti itulah kenyataannya, seperti itulah fakta dan kebenarannya. Tetapi terkadang sebagaimana sifat dasar manusia, masih saja muncul pikiran-pikiran bahwa dirinya tidak begitu penting sehingga harus diletakkan di nomer kesekian dalam daftar prioritas seseorang. Kemudian muncullah rasa-rasa canggung, rasa-rasa kecil hati, rasa-rasa yang semuanya muncul dari pikiran negatif seorang manusia. 

Rabu, 18 Februari 2015

dan beginilah aku, sayang

Kadang aku suka capek. Suka lelah. Suka penat. Sama diriku sendiri. Kadang juga aku suka kecewa sama diriku sendiri. Karena aku tau aku ini mengecewakan, tapi aku masih suka berlari untuk mencari pembenaran. Pembenaran atas semua hal yang sudah aku kecewakan.

Suka bilang "aku pengen sendiri", tapi bahkan aku tidak pernah suka dengan kesendirian itu sendiri. Suka bilang "kita jalan kaki kesana yuk!", karena lagi penat dan banyak pikiran walaupun kebanyakan mereka yang diajak selalu menolak dan bilang, "mau ngapain? Capek. Kamu kaya kurang kerjaan aja".

Rabu, 11 Februari 2015

gadis beruntung

There's no such thing as luck....

Semua hal yang ada di dunia ini, segala hal yang ada di alam semesta ini, kesemuanya berlangsung atas kehendak Allah. Manusia memang suka merencanakan. Dan memang manusia boleh mengatur banyak rencana. Akan tetapi Allah juga Maha Merencanakan. Allah adalah sebaik-baiknya pembuat rencana. Dan yang aku percayai hingga detik ini dan detik-detik selanjutnya adalah bahwa rencana Allah akan selalu berakhir dengan luar biasa indah.

Just like what happened now.
Kenikmatan seperti apa yang hendak kamu dustai? :))

Minggu, 11 Januari 2015

enam bulan di Jogja


Enam bulan sudah menyandang status mahasiswa, menjadi perantau di kota orang. Enam bulan sudah menjadi anak-yang-berusaha-hemat walaupun sepertinya belum bisa dibilang berhasil.  Enam bulan sudah aku belajar menerima Jogja dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Enam bulan ini aku menyadari apapun ada di Jogja. Kamu butuh apa? Segalanya tersedia disini. itulah mengapa aku telah mencintai kota ini sejak sebelum aku menginjakkan kaki disini.

Rasanya menjadi mahasiswa dari salah satu universitas terbaik di negeri ini itu nggak mudah. Seolah ada puluhan ribu ton harapan yang dibebankan di pundakmu. Memang sih, ada kebanggaan tersendiri, ketika kamu berjalan dengan membawa identitas kampusmu. Dengan almamater. Dengan korsa. Dengan jaket. Ataupun hanya dengan kaos berlambangkan Universitas Gadjah Mada. Rasanya seolah berasal dari keturunan ningrat. Seperti derajatmu menjadi sedikit lebih tinggi. Terlepas dari kesan sombong atau apa, tapi rasanya seperti kamu bukan anak yang biasa-biasa saja, rasanya luar biasa. serius. dan aku sendiri masih merinding, ketika melihat tulisan Universitas Gadjah Mada di portal utama UGM. Betapa gagahnya Grha Sabha Pramana dengan berlatar belakang gunung Merapi. Masih nggak bisa percaya aja kalo ternyata aku sudah resmi menjadi mahasiswa kampus kerakyatan ini sudah sejak enam bulan yang lalu. Masih ngerasa kalo semuanya mimpi...