Jumat, 27 November 2015

pulang.

Rumah?

Sebenernya apasih yang bisa disebut rumah itu. Bangunan beratap dengan kasur bantal dan guling di dalamnya? Atau apa? Sebenernya apa yang bisa dan layak aku sebut sebagai rumah? Kriteria apa yang memenuhi untuk kemudian bisa disebut rumah. Dan ketika aku bilang, “I wanna go home,” sebenernya ‘home’ seperti apa yang ingin aku tuju? Walaupun aku masih belum mampu menjawab pertanyaan yang aku ajukan sendiri, aku rasa tidak semua tempat bisa disebut rumah, dan tidak semua tempat akan terasa seperti rumah. Dan aku pikir, kalian juga setuju.




Selasa, 17 November 2015

lari dari kenyataan


kedewasaan ngga bisa dinilai dari umur.
bisa jadi sudah menginjak umur 30-an tapi masih belum mampu memahami diri sendiri dan belum mampu menempatkan diri berdasarkan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. bisa jadi pula walaupun belum genap 15 tahun tapi sudah mampu memandang jauh ke depan, mampu peka terhadap sekitarnya, mampu berdamai akan masalah pada dirinya sendiri.

kedewasaan ngga bisa dilihat dari status seseorang.
lantas karena sudah mahasiswa harus dewasa dan karena masih bocah smp lalu kekanakannya selalu ditolerir? mahasiswa hanya diharuskan untuk bersikap dewasa karena dia lebih lama mengenyam ilmu dibanding bocah smp tadi, karena dia berpendidikan dan dibesarkan dengan ilmu-ilmu pasti dan sosial yang belum dipelajari bocah smp tadi, karena dia lebih dulu hidup besar menghadapi kerasnya kenyataan dibanding bocah smp tadi.


maka sudah seharusnya seorang mahasiswa malu jika kalah dewasa dengan bocah smp. logika sederhananya seperti itu.









Senin, 09 November 2015

anak kuliahan vs anak sma


setelah satu setengah tahun saya lewati dengan status seorang mahasiswa. siswa dengan segala kemahaannya. yang katanya karena kekuatan mahasiswa-lah rezim orde baru berhasil diganti. yang katanya suara mahasiswa-lah yang mampu mewakili suara rakyat. mahasiswa. begitu agung dengan awalan maha di di depan kata siswanya.

yang jelas, secara nyata, tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa itu lebih besar dan lebih berat dari tanggung jawab anak sekolahan biasa. 

setelah satu setengah tahun menyandang status mahasiswa, kesimpulan yang bisa diambil adalah, ngga enak. nggak enak jadi mahasiswa. kalo disuruh milih mah mending jadi anak sekolahan aja, yang masih bisa nakal masih bisa urakan kelayapan dan masih diberi toleransi, walaupun setiap senin pagi harus desel-deselan di lapangan sekolah buat ikut upacara. tapi aku bakal ngasih apa aja yang aku punya supaya aku bisa kembali ke masa-masa kejayaan itu, masa sma.

Sabtu, 07 November 2015

mungkin lebih ke....hati?






empati?
simpati?

tiba-tiba ingin sekedar membagi apa yang mengusik pikiran. yang rasanya menusuk-nusuk dan membuat otak seketika memberi perintah untuk mengeluarkan air mata lewat kelopak mata indah ciptaan Allah ini.


sepertinya aku dulu pernah bercerita lewat tulisanku di blog ini sebelum ini, tentang bagaimana aku tidak mampu menahan perasaan penuh kesakitan saat melihat betapa apa yang terjadi di dunia ini terlalu tidak adil, terlalu tidak sesuai pada tempatnya. dan betapa rasa sakit itu bertambah ketika aku bahkan belum mampu melakukan apapun untuk mungkin setidaknya mengubah keadaan, memperbaiki keadaan, menempatkan apa yang seharusnya ada pada tempatnya.