Senin, 25 Juli 2016

kembali pulang


Setiap kali akan kembali lagi ke Jogja.
Entah kenapa selalu berpikir begini.


Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini aku bisa makan tiga kali sehari tanpa mengeluarkan biaya, tanpa perlu berpikir habis ini makan apa, tanpa perlu berpikir saldo di atm tinggal berapa. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini bisa mandi air panas setiap hari, tanpa perlu mengantri lama. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini aku memiliki kamar yang luas, tempat tidur yang lebar. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disini mesin bisa membantu mencuci pakaian kotorku, televisi yang bisa ditonton kapan saja. Kenapa aku harus kembali kesana ketika disana aku akan tetap sendirian.

Tapi aku harus kembali kesana.

Minggu, 17 Juli 2016

mulutmu, harimaumu.


Suatu hari, ada seorang anak yang sangat periang. Dia mengikuti berbagai macam perlombaan lari dan memenangkan banyak penghargaan. Semua orang menghargainya karena prestasinya tersebut.

Semuanya indah dan baik-baik saja hingga suatu hari dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Dokter hanya mengatakan sementara. Tapi entah kelumpuhan itu untuk berapa lama. Dia sedih sekali. Setiap hari dia menangisi waktu-waktu terbaik saat dia menerima trophy penghargaan dan mendengar sanjungan-sanjungan dari banyak orang. Setiap hari dia menangisi membayangkan hari-hari yang harus dia lalui dengan kondisinya sekarang ini.

Awalnya, banyak orang yang memberinya semangat, memberinya dukungan agar tidak menyerah dan terus menjalankan hidup dengan baik, walaupun itu harus dengan kursi roda. Hanya sementara, begitu kata mereka menyemangati.

Sabtu, 09 Juli 2016

rasanya tidak sebercanda itu.

Perasaan tidak bisa dianggap sebercanda itu. Persoalan hati tidak bisa dianggap segampang itu.

Berapa lama kenal sama aku? Apakah belum juga paham betapa sensitifnya perasaanku. Bahkan untuk lelucon-lelucon sederhana yang dianggap biasa saja.