Minggu, 17 Juli 2016

mulutmu, harimaumu.


Suatu hari, ada seorang anak yang sangat periang. Dia mengikuti berbagai macam perlombaan lari dan memenangkan banyak penghargaan. Semua orang menghargainya karena prestasinya tersebut.

Semuanya indah dan baik-baik saja hingga suatu hari dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Dokter hanya mengatakan sementara. Tapi entah kelumpuhan itu untuk berapa lama. Dia sedih sekali. Setiap hari dia menangisi waktu-waktu terbaik saat dia menerima trophy penghargaan dan mendengar sanjungan-sanjungan dari banyak orang. Setiap hari dia menangisi membayangkan hari-hari yang harus dia lalui dengan kondisinya sekarang ini.

Awalnya, banyak orang yang memberinya semangat, memberinya dukungan agar tidak menyerah dan terus menjalankan hidup dengan baik, walaupun itu harus dengan kursi roda. Hanya sementara, begitu kata mereka menyemangati.

 
Hari-hari dia lalui dengan berusaha keras menjalani kegiatannya sehari-hari. Malam-malam sepi dia habisnya dengan menangis mengenang masa indahnya. Masih beruntung Allah memberi dia kesempatan untuk hidup, untuk bernafas. Allah hanya mengambil sementara kemampuan kakinya untuk bergerak. Berulang kali dia mengingat hal itu, kemudian mengucap istighfar namun tetap menangis sedih.

Dia masih sering berkumpul bersama teman-temannya. Walaupun tidak sesering sebelum kecelakaan nahas itu terjadi. Keadaannya yang sekarang membuatnya kesulitan dalam berbagai hal. Termasuk berkumpul bersama teman-temannya. Dia lebih banyak menangis dan menyendiri.

Awal-awal dia berkumpul kembali dengan teman-temannya setelah pulang dari Rumah Sakit, di pintu, dia disambut oleh sorak-sorak, "Wah, teman kita yang baru saja lumpuh datang!". Dia tersenyum. Oke, lebih tepatnya berusaha tersenyum.

“Hai, adek lumpuh”
"Bagaimana rasanya menjalani hari-hari diatas kursi roda?"
"Enak ngga kalo lumpuh?"
"Masih suka lari di stadion ngga? Oh iya lupa, kamu udah ngga bisa lari lagi ya?", dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sudah jelas-jelas tidak membutuhkan apapun sebagai jawaban. Mungkin mereka belum terbiasa dengan keadaannya sekarang, begitu pikirnya. Itu menyakitkan dan rasanya tidak nyaman. Tapi dia mencoba tersenyum walaupun dengan mata berkaca-kaca.

Beberapa minggu berlalu, tidak ada yang berubah. Pertanyaan-pertanyaan menyakitkan semacam itu masih sering terdengar. Mungkin mereka bercanda, pikirnya. Dia tidak lagi berusaha tetap tersenyum saat mendengarnya. Dia menangis. Tapi dia berusaha baik-baik saja.

Namun ternyata beberapa bulan telah berlalu dan sorak-sorak seperti itu masih saja terdengar. Dan ini sudah keterlaluan menurutnya. Dia tahu, dia sekarang lumpuh, dan itu kenyataan. Tapi jika sorak-sorak seperti itu menurut mereka adalah bentuk dukungan, lelucon biasa, atau bentuk usaha mereka supaya dia lebih mampu tegar dalam keadaannya sekarang, mereka salah besar! Justru mereka yang seperti itu malah membuat semuanya menjadi semakin sulit. Justru mereka yang seperti itu malah makin membuatnya sering menangis mengenang masa lalu, menangisi masa kini, menangisi masa depan. Terkesan seperti mereka tidak menghargai usahanya dalam terapi agar bisa berjalan kembali, tidak menghargai usahanya menjalani kegiatan sehari-hari tanpa kedua kakinya. Semua sanjungan yang pernah dia dengar dulu sebelum dia lumpuh sudah tidak terdengar suanya lagi. Dia merasa, orang-orang sudah tidak menganggapnya seberharga ketika dia masih bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

Kemudian dengan situasi seperti ini, apa salah jika dia sakit hati. Kemudian dengan situasi seperti ini, apa salah jika dia lebih menjauhi keramaian dan lebih suka menyendiri. Apakah dia yang menjadi terlalu sensitif karena kelumpuhannya ini? Atau perkataan mereka yang memang kelewatan? Lalu apakah mereka tidak bisa merasakan bagaimana perasaan si anak lumpuh tadi setiap mendengar bentuk dukungan atau lelucon biasa yang dengan cara seperti itu?

Bahkan batu yang keras bisa berlubang ketika terus-menerus terkena tetesan air hujan, kan?


Peka terhadap sekitarmu.
Hati-hati dalam berkata-kata.
Karena "mulutmu, harimaumu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar