Senin, 12 September 2016

andai aku cantik, ya.


Sebelum aku benar-benar menuangkan isi pikiranku dalam tulisan ini. Aku berharap apa yang aku pikirkan hanyalah perasaanku semata. Semata-mata perasaan hanya karena pemikiran aneh dan semoga tidak benar-benar terjadi seperti apa yang aku pikirkan. Tapi pikiran ini cukup menggangguku. Dan kamu, tidak, tidak hanya kamu, tapi kalian semua yang membaca tulisan ini harus tau apa saja yang menggangguku.

Andai aku cantik.
Bukan. Ini bukan karena aku tidak mensyukuri apa yang sudah Allah berikan padaku. Tapi pemikiran “andai aku cantik” ini terus-menerus memenuhi pikiranku dan mulai terasa mengganggu.


Aku terlahir seperti ini. Tidak cantik. Tidak pintar. Tidak memiliki kelebihan apapun yang bisa dibanggakan. Aku tidak memiliki sesuatu yang membuat mereka dengan lantang berkata dan mengumandangkannya pada dunia, “aku bangga punya Nadia. Aku bangga ada Nadia disini. Dan aku bangga dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, aku diberi kesempatan mengenal Nadia”. 

Andai aku cantik.
Menurutku, pancasila sila kelima yang berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” belum benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Aku berbicara tentang persamaan perlakuan, kesetaraan, tentang bagaimana seharusnya bersikap adil bukan tentang bagaimana harus bersikap sesuai porsi yang dibutuhkan. Karena aku merasa, kalian belum benar-benar adil dalam memperlakukan sesuatu, terutama seseorang. Aku berbicara tentang mereka yang diberi kelebihan cantik dan mereka yang tidak memiliki kelebihan itu. Aku berbicara tentang aku. Tentang aku yang dipandang sebelah mata karena aku yang disebut “sudah ngga cantik, otak encer juga engga”, tentang aku yang disebut “aku tau kamu memang bodoh kok, Nad”, tentang aku yang disebut “mahasiswa kelas rendah dengan IQ jongkok”.

Well, kalian semua memang benar menyebutku demikian.

Aku memang sampah.
Tidak diinginkan. Tidak diharapkan.

Luar biasa kalo boleh aku bilang karena aku punya masafin walaupun aku banyak kekurangan, tanpa kelebihan dan penuh kehinadinaan ini. Jadi apa berlebihan jika aku menyebut diriku beruntung dengan adanya dia disini?

Andai aku cantik.
Semakin hari aku selalu berpikiran “andai aku cantik”. Jika aku cantik, maka aku tidak akan hidup nelangsa mengemis perhatian orang. Jika aku cantik, aku tidak akan perlu pagi hari atau siang bolong berjalan kaki hanya untuk pergi ke suatu tempat. Jika aku cantik, akan banyak orang menawarkan “mau aku anter?” “butuh bantuan apa?” “mau ikut ngga?” tanpa perlu aku minta. Jika aku cantik, kehadiranku akan selalu ditunggu. Jika aku cantik, aku akan selalu dipuja dan dibangga-banggakan. 

Mereka yang cantik selalu mendapat spesialisasi. Selalu mendapat perlakuan khusus. Selalu mendapatkan sikap istimewa. Berbeda dengan mereka yang kebetulan tidak cantik. Mereka yang cantik selalu dengan indahnya diperbincangkan. Dielu-elukan. Berbeda dengan mereka yang kebetulan tidak cantik. Memang juga diperbincangkan, tapi dengan kejijikan dan penuh nada merendahkan.

Dengan penuh semangat membantu mereka yang cantik “mau jemput dedek cantik dulu ya”. Tapi ketika mereka yang tidak cantik butuh bantuan, “aduh maaf ya, yang lain aja”. Ketika mereka yang cantik datang, akan langsung mendapat sambutan hangat. Tapi jika mereka yang tidak cantik datang, akan langsung terdengar hembusan nafas panjang penuh keluhan.

Lalu apa aku salah jika berkata begini?

Aku berkata demikian bukan tanpa alasan. Aku berkata demikian karena aku melihat dan mengalaminya secara langsung dalam keseharianku. Kalian semualah yang membuat aku berpikiran seperti itu.

Lalu jika demikian apa aku salah?

Itu hanya bercandaan saja. Maklumin aja anak cowok kan memang gitu.

OH WELL, BERCANDAAN KATAMU? Bercandaan yang menyakitkan hati. Aku harus akui kalau kalian memang hebat dalam bercandaan, ya. Hebat sekali. Entah sudah berapa banyak airmata yang jatuh karena “bercandaan” kalian. 

Maaf ya, tapi aku ini pendendam. Aku mengingat semua perkataan dan semua perlakuan yang aku dapatkan. Dan aku akan memperlakukan kalian semua sesuai dengan bagaimana kalian memperlakukan aku.

Mereka bilang, “ngga apa-apa Nadia ngga cantik, ngga banyak pengalaman organisasi atau ngga pinter. Yang penting Nadia punya cinta. Rasa cinta Nadia itu yang nggak dimiliki sama mereka. Itu yang ngebuat Nadia beda, ngebuat Nadia spesial dari yang lain”. Kata-kata penghiburan basi yang selalu aku dengar. Sampai panas telingaku. Iya benar aku hanya punya rasa cinta. Tapi rasa cintaku tidak dihargai. Aku hanya punya rasa cinta. Tapi perasaanku selalu dibuat bahan lawakan.

Mungkin seandainya aku cantik, semua akan berbeda, ya.


2 komentar:

  1. Aku juga tidak cantik, hehehe
    Kadang memang minder, apalagi kalau lagi kumat wkwk

    BalasHapus