Rabu, 12 Oktober 2016

dunia ini semakin kejam, ya.

23:23 WIB. 11 Oktober 2016.
Malam ini kelopak mataku menolak untuk menutup.
Otakku terus menerus bekerja. Berpikir.

Beberapa jam yang lalu, aku berniat membantu sepasang suami istri untuk mencari sebuah alamat. Mereka berdua terlihat sangat kebingungan dan aku kasihan. Mereka butuh pertolongan dan aku berusaha membantu. Tetapi ternyata kebaikanku ternyata disalahgunakan. “Alamatnya ada di handphone, tapi handphone saya mati, boleh pinjam handphone adek untuk menelpon? Ada pulsanya?” “oh iya, ada, baru kemaren ditransfer 50rb sama ibu di rumah” “nanti pulsanya saya ganti” “oh ndapapa, nda usah” “maaf ya merepotkan, dek”. Mereka berdua naik sepeda motor, sedangkan aku disuruh berjalan karena tidak mungkin kita bertiga berboncengan. Kemudian di persimpangan jalan, mereka hilang tanpa jejak.

Segampang itu aku ditipu mentah-mentah, berujung pada hilangnya handphone yang umurnya bahkan belum mencapai satu tahun. Well, sebenernya yang bikin nyesek itu bukan karena aku berniat menolong orang tapi orang itu dengan sangat kurang ajar justru memanfaatkanku, tapi karena handphone itu, yang umurnya belum genap satu tahun itu, adalah pemberian ibuku. Kasihan ayah sama ibu di rumah. Aku sudah cukup banyak menghabiskan uang di tanah rantau. Minta ini itu. Belum genap setahun sewaktu handphone lamaku tiba-tiba rusak, kemudian beberapa bulan harus hidup tanpa smartphone dan ketinggalan banyak informasi akademik di kampus lalu kemudian ayah dan ibu berbaik hati memberiku sebuah handphone baru. “ini handphone terakhir lo, ayah sama ibu ndak bakal beliin lagi,” begitu ujar ibu saat memberikan handphone baru itu kepadaku.

Di tengah hujan aku berlarian mencari sepasang suami istri sialan itu. Tapi mereka lenyap entah pergi ke arah mana. Sedih sekali hatiku. “makanya jangan polos-polos, jangan terlalu baik,” begitu kata mas Safin saat aku dengan isak tangis dan deru nafas satu-satu menceritakan kronologi kejadian lenyapnya handphoneku. Nomerku sudah tidak lagi aktif ketika aku berusaha menghubungi. Sedih. Sedih sekali. Celenganku bahkan belum mencapai angka 300 ribu.

“ayaaaah, ini nadia yah. Handphoneku diambil orang barusan”, isakku dari telpon rumah.

Kata bapak polisi, aku ini anak yang baik, jujur dan suka menolong orang, tapi di dunia ini tidak semua orang yang melakukan hal baik akan dibalas dengan kebaikan pula. Bapak polisi ramah itu bilang, peristiwa ini harus dijadikan pelajaran. Mungkin hari ini kamu kehilangan handphone, tapi nanti kamu mungkin jadi produsen handphone. Dan lain kali, kamu tidak boleh terlalu baik pada orang yang tidak dikenal. Diikhlaskan saja nduk, nanti beli lagi yang baru, begitu katanya. Aku hanya bisa menarik nafas panjang.

Sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya aku saja yang suka berjalan sambil melamun. Terlalu polos dan mudah dibodohi. Sebenarnya tidak ada yang salah. Dua bajingan itu hanya salah satu contoh manusia yang berusaha bertahan hidup dalam dunia yang semakin kejam dan keras ini.


Nb.
Pak, bu, semoga handphone saya bermanfaat buat bapak dan ibu berdua ya. Nanti Allah pasti mengganti handphone saya dengan yang lebih bagus lagi, hehe. Oh iya, tolong note di Google Keep, Google+ dan personal chat saya di Whatsapp jangan dibaca ya, itu privasi lo wkwk, dan tolong jangan main bajak-bajakan, itu udah childish banget untuk ukuran bapak dan ibu yang kayanya udah setengah abad umurnya. Hm, tetapi sebenarnya sih saya berharap bapak dan ibu berbaik hati mengembalikan handphone saya, handphone saya handphone murah lo, sudah saya tolong, saya relakan pulsa puluhan ribu saya itu, masak sih tidak tau berterima kasih dan justru membawa lari handphone saya? Janganlah ya, tolong dikembalikan ya :) ingat lo, setiap perbuatan akan ada balasannya di akhirat hohoho


Oh iya, untuk teman-temanku tersayang, apabila ada yang mengatasnamakan Nadia Aliyatul Izzah meminta sesuatu dalam bentuk apapun, atau menghubungi kalian, atau memposting sesuatu yang kurang ajar, mohon untuk diabaikan dan dimaafkan. Ada orang-orang penghuni neraka yang kurang kerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar