Sabtu, 04 Februari 2017

masa lalu?


Well, setelah liburan semester yang cukup panjang (yang dihabiskan dengan makan-tidur-makan-tidur di rumah tanpa sekalipun muncul pemikiran sehabis-ini-makan-apa-ya karena begitu tiba di rumah, semua urusan perut sudah terjamin (re: perbaikan gizi)) sudah lewat, maka aku diharuskan kembali kepada rutinitas perkuliahan bahkan ketika kebanyakan universitas lain belum memulai kegiatan akademiknya alias masih pada libur. Yeah, congratulations, gamada! Wkwkw

Aku kembali duduk mendengarkan dosen di kelas. Kembali meresume jurnal-jurnal internasional, membuat paper, tugas presentasi, kuis, praktikum dan mengarang indah dalam pembuatan laporannya. Dengan menggunakan alasan “kalian kan sudah semester 6, tahun depan sudah mulai masuk lab penelitian kan?”, maka hampir sebagian besar dosen memberikan tugas bahkan ketika masih pertemuan pertama seperti ini. Baiklah, izinkan aku mengeluh pada paragraf ini. Setelah banyak semester aku lewati, ternyata masih belum juga terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Maafkan aku yang tidak berguna ini.



Kemudian, beberapa kejadian terjadi selama beberapa minggu ini. Kalau dirangkum mungkin mulai dari aku telat update gossip, atau tentang keinginan piknik berdua sama mas safin (dengan memelas dan memohon-mohon tapi sama doi ngga dikabulin hiks, dasar pelit), tentang banyak hal dan terutama tentang bagaimana ternyata aku belum bisa berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu.

Yah, tiba-tiba ingin menulis tentang masa lalu. Seseorang pernah bilang, “jangan sebut-sebut nama dia lagi, aku sudah bahagia”. Dan aku terhenyak. Karena bukan kali ini saja aku jadi sangat insecure perihal masa lalu, dan terutama karena aku ini overthinking dalam segala sesuatunya. Lalu mas safin bilang, “dewasalah. nggak usahlah kamu iri dengan siapa saja aku di masa lalu. Masa lalu ya masa lalu. Toh buktinya aku sekarang sama kamu, kan? Sekarang untuk masa depan yang lebih baik”. Ciee sayang deh sama kamu, TeZ. Mumumu ♡♡♡

Menurutku, seseorang yang bisa menerima dengan lapang dada masa lalunya atau masa lalu orang yang disayanginya, sepahit ataupun semanis apapun masa lalu itu, adalah orang yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Beberapa mungkin akan disebut gagal move on ketika dia masih terngiang-ngiang indahnya masa lalu dan tidak mau melangkah menghadapi masa depan.  Beberapa ada pula yang terlalu takut menghadapi masa depan karena terbanyang kenangan pahit di masa lalu. Ada yang bilang bahwa masa lalu itu ada untuk dibuat pembelajaran. Selayaknya ketika naik kendaraan, sesekali butuh untuk melirik keadaan di belakang melalui spion agar mampu menjaga jarak dengan kendaraan lain, tetapi jangan terlalu terpaku pada spion karena di depan juga banyak kendaraan, nanti tabrakan, broh! Wkwk  

Akupun punya masa lalu. Pernah ada saat ketika aku menyesal mengingat kebodohanku di masa lalu dan berulang kali berpikir duh goblok kenapa aku mau buang-buang waktu dengan hal bodoh seperti itu dulu, then I said “maaf yaa dulu khilaf”. Atau pernah juga ketika aku tersenyum mengingat sesuatu hal yang pernah aku lakukan di masa lalu, then I said, “sweet mistakes, aku nggak pernah menyesalinya”. Dan karena itu sudah berlalu, maka seharusnya yang aku lakukan adalah menerima. Bukan menolaknya. Menolak pun tidak akan mengubahnya sama sekali. Sudah lewat bos, kok dibahas lagi? Ikhlasin sajalah.


Sebagian kejadian di masa lalu mungkin termasuk dalam kategori khilaf (yang amit-amit mau diinget inget lagi), sebagian lagi termasuk dalam kategori “kesalahan terindah” yang akan selalu aku kenang sepanjang masa dan sebagian lainnya akan terlupakan dengan berjalannya waktu.

Jadi, kalau kamu termasuk dalam bagian masa laluku, kira-kira apakah kamu bisa menebak masuk kategori apakah kamu? Hehe. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar